Gejala radang amandel diawali dengan demam, nyeri saat menelan, dan mulutnya bau.

INTRO 1 2

Amandel pada Anak, Harus Diobati tapi Tak Harus Dioperasi

Editor    : Dini Felicitas

Tanggal : Selasa, 10 Januari 2017

Berbagi :

Syarat-syarat Mengoperasi Amandel

Organ tonsil berperan penting melawan infeksi dari udara sebelum masuk ke saluran napas bagian bawah, sebab tonsil dapat memproduksi antibodi Imunoglobulin A-sekretori. Antibodi inilah yang melawan dan membunuh bakteri sehingga fungsi amandel ini menjadi benteng pertahanan terdepan yang menangkis serangan bakteri yang masuk melalui pernapasan dan mulut.

Jika dilakukan operasi amandel, akankah memengaruhi daya tahan tubuh? Jawabnya, “ya”. Oleh karena itu, sebisa mungkin amandel sebaiknya jangan dioperasi agar tubuh tidak kehilangan salah satu sistem pertahanan tubuhnya. Tubuh tanpa amandel akan lebih rentan sakit daripada yang ada amandelnya.

Walau demikian, dokter mempunyai alasan mengapa amandel harus dibuang. Bila penyebab infeksi pada amandel adalah kuman yang berbahaya dan bersifat darurat, maka tindakan tersebut memungkinkan untuk dilakukan.

Jadi, menangani tonsilitis pada anak tidak melulu bisa dengan terapi obat antibiotik. Untuk kasus tertentu (indikasi absolut dan indikasi relatif ), bisa dilakukan pengangkatan tonsil dengan cara operasi. Menurut rekomendasi AAO-HNS (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery), indikasi klinis pengangkatan tonsil harus memenuhi syarat-syarat di bawah ini:

1. Pasien dengan serangan tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan telah mendapatkan pengobatan yang adekuat tapi tetap infeksi tonsilitis terjadi terus.
2. Pembesaran tonsil yang mengakibatkan maloklusi gigi-geligi atau adanya efek samping gangguan pertumbuhan mulut/wajah (orofacial growth) yang terdokumentasi oleh doker gigi.
3. Pembesaran tonsil yang mengakibatkan sumbatan jalan napas atas, seperti ngorok, bicara sengau, gangguan/kesulitan menelan, henti napas saat tidur (sleep
apnea syndrome
), atau komplikasi penyakit kardiopulmonal, seperti: endokarditis bakterialis.

Endokarditis terjadi bila bakteri memasuki pembuluh darah, kemudian masuk ke dalam rongga jantung, dan menempel pada katup jantung yang abnormal atau dinding jantung yang tidak rata. Sering kali bakteri penyebab berasal dari rongga mulut yang kotor atau dari tenggorokan. Gejala endokarditis pada umumnya demam berkepanjangan (prolonged fever) tanpa ada gejala batuk pilek maupun diare.

4. Adanya abses peritonsil dengan gejala tonsilitis akut, demam tinggi, nyeri menelan, nyeri tenggorok, muntah, mulut berbau, hipersalivasi, suara sengau, kadang-kadang sulit membuka mulut (trismus), serta pembengkakan kelenjar submandibula. Abses peritonsil yang tidak merespons positif pengobatan antibiotik dapat dipikirkan untuk operasi pengangkatan tonsil.

5. Bau mulut akibat tonsilitis kronik yang tidak responsif terhadap pengobatan antibiotik.

6. Tonsilitis kronik karena kuman streptokokus yang tidak respons dengan pengobatan antibiotik, mungkin disebabkan kronisitas penyakit. Bakteri dapat diatasi dengan antibiotik, tetapi pembengkakan tonsil tidak juga mereda, sehingga tetap menyebabkan gejala ngorok dan lain-lainnya.

7. Pembengkakan tonsil satu sisi yang dicurigai keganasan (biasanya terjadi pada usia dewasa).

8. Adanya otitis media (radang telinga) akut atau otitis media supurative kronik berulang, yang disebabkan oleh tonsilitis akibat infeksi bakteri. Jika indikasi di atas terdeteksi, tindakan operasi dapat dilakukan dokter.

Sumber :

INTRO 1 2

PENULIS

Gazali Solahuddin