Sebelum mengunggah foto atau video anak, utamakan keamanan dan keselamatannya.

Sebelum Anak Jadi Seleb di Media Sosial, Baca Ini Dulu

Editor    : Heni Wiradimaja

Tanggal : Rabu, 28 Desember 2016

Berbagi :

Tabloid-nakita.com - "Ayo, difoto dulu, Sayang!” Dian (28) meminta buah hatinya, Rere (3,8) berpose sambil memegang sendok makannya, lalu menyendok sarapannya dan memasukkannya ke mulut. Sementara Rere menghabiskan sarapannya, Dian asyik mengunggah foto-foto Rere tadi disertai teks: “Anak Mama pintar makan sendiri!”

Usai sarapan, Dian mengajak Rere mencuci tangan di wastafel, lalu... klik! Dian memotret kembali dengan androidnya, kemudian mengunggahnya lagi dengan tulisan, “Cuci tangan habis makan itu penting untuk kebersihan!”

Aksi foto-foto terus berlanjut hingga Rere pulang sekolah, bahkan sampai Rere berangkat tidur malam. Bukan main!

Hmmm... apakah Mama Papa juga seperti Dian, gemar memotret atau memvideokan si kecil dan menampilkannya di media sosial? 

 

“INI, LO, ANAK KEBANGGAANKU!”

Siapa, sih, yang tak senang mengabadikan momen bersama anak kesayangan?  Nah, dengan mengunggah ke medsos, kita jadi punya arsip keluarga yang lengkap secara gratis. Kalau cuma itu, mengapa arsip si kecil tidak disimpan saja di folder yang aman di dalam laptop? Zaman sekarang, kurang asyik juga kalau dokumentasi ini hanya dinikmati oleh kalangan sendiri. Karena pada dasarnya kita ingin menebar perasaan bahagia dan bangga punya anak beserta segenap kemampuan yang sudah dicapainya. Sebagian besar dari kita juga punya sisi narsis yang sulit dibendung; merasa kalau anak kitalah yang paling ganteng, paling cantik, paling pintar, paling lucu, paling kreatif, dan paling-paling lainnya. Setiap kemajuan perkembangan anak kita dinilai layak menjadi breaking news yang diharapkan mengundang komentar positif. Anaknya sudah pintar bicara, sudah bisa makan sendiri, atau ngambek dengan tingkah yang lucu, semua itu adalah berita yang pantas disebarkan kepada dunia. 

Baca juga: Hati-hati Pamer Foto dan Informasi Anak di Facebook. Ini bahayanya.

Sesungguhnya, kita semua memiliki emosi yang sama terkait kecintaan dan kebanggaan terhadap anak. Iya, kan? Jadi, begitu terkoneksi dengan teman-teman atau followers di medsos, maka kita semua rata-rata akan berperilaku sama, yakni mengunggah foto/video anak agar bisa dilihat oleh para friends atau followers. Yang berbeda mungkin hanya frekuensinya  saja. Ada yang melakukan setiap hari, seminggu sekali, atau lebih jarang dari itu dengan memilih momen-momen spesial saja.

KEJAHATAN MENGINTAI

Sayangnya, di  media sosial  juga banyak orang iseng dan jahat. Selain itu, data digital berupa tulisan, foto, video, dan gambar yang sudah diunggah di media sosial masih sangat mungkin ditemukan kembali oleh mesin pencari. Masih ingat kasus yang menimpa Thalia Putri Onsu, buah hati selebriti Ruben Onsu dan Sarwendah? Pertengahan 2015 lalu, Ruben  terpaksa repot melapor ke Polda Metro Jaya perihal foto Thalia yang diunduh oleh pihak tak bertanggung jawab ke akun jual-beli bayi di Instagram. Kasus serupa juga dialami oleh artis Ayu Ting Ting.

Ya, ancaman seperti itu  memang tak dapat dihindarkan, mengingat siapa pun bisa menggunakan medsos. Indonesia menjadi sasaran empuk bagi pelaku cyber crime. Setiap hari, ada 42.000 serangan yang diarahkan kepada pengguna medsos di negara kita. Data ini telah dilansir di situs nationalgeographic.co.id dengan  mengutip pernyataan Dimitri Mahayana, Direktur Lembaga Riset Telematika Sharing Vision yang melakukan penelitian pada 2013.

Baca juga: Jangan Posting 8 Foto Ini di Media Sosial

Mama Papa mungkin masih ingat dengan Nina, balita imut-imut berdarah campuran Amerika (dari ayah) dan Jepang (dari ibu) yang kecil-kecil sudah mahir berbahasa Inggris dan Jepang. Nina sempat terkenal di dunia maya sekitar 2008—2009 lantaran sosoknya yang cerdas dan menggemaskan. Geof, sang ayah, rajin mengunggah video berbagai kegiatan Nina untuk konsumsi keluarga dan sahabat-sahabatnya di Amerika.  Tak disangka, Nina jadi terkenal. Setiap video yang diunggah sang ayah ditonton oleh hingga ratusan ribu orang. Namun sejak Nina berusia 6 tahun, Geof tak lagi mengunggah video gadis ciliknya itu, bahkan menghapus akun Nina di YouTube. Hal itu dilakukan sang ayah, selain karena Nina sudah cukup besar dan berhak mendapatkan privasi, keselamatannya juga bisa terancam jika terus-menerus diekspos.

ADA ATURANNYA, LO!

Keselamatan anak memang nomor satu. Sayangnya, kalau diperhatikan, kesadaran mengenai mana yang boleh dan tidak boleh dalam mengunggah foto/video anak di medsos masihlah rendah. Sebuah survei terkait kesadaran akan medsos dilakukan oleh University of Michigan. Hasilnya,  lebih dari 74% responden mengaku ragu saat mengunggah foto bayi mereka di internet, tetapi mereka tetap melakukannya karena mengikuti tren. Survei yang dilakukan pada 2015 ini juga mengungkapkan, sebanyak 51% orangtua tanpa sadar memasukkan informasi pribadi yang memungkinkan orang luar mengetahui lokasi anak melalui foto atau video yang dibagikan.

Pencegahan terhadap ini  dilakukan oleh Aedi, papa dari YouTuber cilik Lifia dan Niala dengan tidak menyertakan  identitas detail di sosial media, khususnya lokasi foto atau video. “Yang  kami berikan informasi yang umum saja, atau kadang kami melakukan late post untuk lokasi tertentu, sehingga foto tersebut sudah tidak valid lokasinya. Contoh, foto di mall A kota B, seminggu kemudian baru diunggah. Saat itu kami sudah di kota C,” papar Aedi.

Baca juga: Membuat Vlog yang Disukai Anak Ala Lifia Niala

Selain itu, untuk menjaga keamanan dan keselamatan anak, Aedi hanya mengunggah  konten foto/video yang memberikan edukasi serta motivasi bagi pengguna medsos lainnya. “Kami menghindari mem-posting foto atau video yang bersifat kontradiktif dan tidak sesuai dengan norma, serta jauh dari edukasi,” tambah Aedi.

Kendati demikian, beberapa komentar negatif terkadang muncul juga. Aedi berpendapat, “Abaikan saja selama komentar tersebut tidak mengganggu. Namun jika ada ancaman serius yang melewati batas, serahkan persoalan ini kepada pihak berwenang sesuai UU ITE.  Antara lain: kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pengancaman dan pemerasan. Itu terdapat dalam pasal 27, 28, dan 29 UU ITE,” papar Aedi lancar. Untunglah, hingga saat ini ia dan kedua YouTuber ciliknya belum mengalami kejadian yang mengancam kenyamanan dan keselamatan.

NO ENDORSEMENT!

Walau sudah terkenal, Aedi kerap menolak endorsement  yang sifatnya mengikat. “Kami membeli sendiri mainan anak-anak sesuai dengan keinginan mereka. Ketika ada yang menawarkan produk tertentu untuk digunakan dalam video Lifia & Niala, anak-anak yang akan menjadi penentunya. Jika mereka kurang tertarik, pasti akan ditolak. De-ngan demikian mereka tetap bersemangat ketika membuka dan ber-main dengan mainan yang diinginkannya,” katanya.

Seperti diketahui, video Lifia & Niala, hampir seluruhnya berisi tentang kegiatan unboxing mainan, bermain, dan permainan. “Mereka senang sekali. Bahkan, ketika kami sedang sibuk, mereka sering menanyakan, kapan buka mainan baru lagi, kapan kita rekam lagi, kapan kita berenang lagi? Jawabannya, kita tunggu waktu libur, ya, Sabtu atau Minggu,” cerita Aedi.

No endorsement, juga berlaku bagi selebgram cilik Kirana (2) di akun milik ibunya,  Retno Hening Palupi (27) yang berdomisili di Oman. Akun Instagramnya yang memuat foto dan video seputar kegiatan putrinya sudah diikuti ratusan ribu orang. Padahal, awalnya sang ibu hanya ingin berbagi momen keseharian Kirana dengan keluarga di Indonesia. Kelucuan dan kepintaran sang buah hatilah yang menjadikannya terkenal. Namun begitu, “Saya tidak mau menjadikan akun Instagram saya sebagai sumber pendapatan. Lagi pula, saya membuat akun ini bukan untuk hal itu, kok!” katanya. Retno mengaku tidak memakai strategi apa-apa. Ia hanya membagikan hal-hal yang memang menjadi keseharian Kirana, tetapi dengan tetap menjaga dan menghindari konten yang dapat menimbulkan masalah.

Peliput: Gazali Solahuddin, Gisela Niken, Irfan Hasuki

 

Sumber : Tabloid Nakita

PENULIS

Santi Hartono