Ciri-ciri Anak Sensitif yang Tidak Mama Sadari

Ciri-ciri Anak Sensitif yang Tidak Mama Sadari

Editor    : Dini

Tanggal : Senin, 15 Februari 2016

Berbagi :

Tabloid-Nakita.com - Setiap anak dilahirkan unik. Di antara mereka, ada anak-anak dengan kepribadian sensitif. Anak yang sensitif akan bereaksi ketika dunia seolah tidak merespons sesuai harapan-harapan mereka. Tangisan menjadi cara mereka mengekspresikan diri, karena mereka belum bisa menggambarkan perasaanya, atau mengungkapkannya melalui kata-kata.

"Itu merupakan suatu ciri kepribadian yang umum, yang menyebabkan anak jadi merasakan luka fisik dan emosional lebih dalam daripada yang lain," jelas Jeremy Schneider, ahli terapi keluarga di New York City.

Namun mudah menangis bukan satu-satunya tanda anak sensitif. Bagaimana sebenarnya ciri-ciri anak sensitif?

Elaine Aron, PhD, peneliti dari State University of New York, Stony Brook, dan penulis buku The Undervalued Self, mengatakan bahwa anak yang sangat sensitif merupakan satu dari 15 - 20 persen anak yang dilahirkan dengan sistem saraf yang sangat peka dan cepat bereaksi terhadap segala sesuatu. "Anak sensitif sangat responsif terhadap lingkungannya, entah itu cahaya, suara, bau, atau suasana hati orang-orang dalam situasi mereka," katanya.

Anak-anak sensitif mudah terganggu dengan keramaian, kegaduhan, situasi yang baru, perubahan yang mendadak, dan kesedihan yang dialami orang lain. Kritikan, dan kekalahan, akan ditanggapi dengan kesedihan mendalam.  Anak sensitif bisa saja menangis karena melihat temannya di-bully di sekolah. Anak yang lain bisa menolak untuk tidur siang karena merasa disakiti oleh teman-temannya.

Banyak ciri-ciri anak sensitif yang mungkin tidak Mama sadari sebelumnya. Bahkan Mama mungkin menyalahartikan sikapnya sebagai pemalu atau pemarah. Namun menurut Jeremy Schneider, ahli terapi keluarga di New York City, Mama perlu memandang sikap sensitif anak ini sebagai anugerah tersendiri karena mereka mampu mengalami kehidupan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan anak rata-rata. Ia mengajak untuk memerhatikan ciri anak sensitif berikut ini:

* Apakah ia sangat peka dengan inderanya? Bau yang menjadi lebih harum atau pendengaran yang lebih tajam? Lebih peka terhadap rasa sakit, fisik maupun emosional?
* Apakah perasaannya mudah meluap-luap? Apakah kadang-kadang ia merasa begitu excited sehingga malah menarik diri?
* Apakah ia kerap melontarkan pertanyaan yang mendalam? Sering tampak berpikir sendiri, atau merefleksikan pengalamannya?
* Apakah ia sangat peka dengan lingkungannya? Memerhatikan ketika ada suatu barang yang dipindahkan dari tempat biasanya, atau rambut temannya yang berubah?
* Apakah ia mudah terbawa perasaan orang lain? Ia tahu ketika temannya merasa sedih dan mencoba menghiburnya? Apakah ia sering kasihan pada binatang yang terlihat lapar?
* Apakah si kecil ingin label merek dicopot dari semua kerah bajunya?
* Apakah ia lebih senang bermain sendiri daripada beramai-ramai dengan teman-temannya?


Dr. Aron mengingatkan, kepribadian sensitif bukan karena kurangnya kepercayaan diri atau ketrampilan sosial sehingga bukan merupakan suatu kelemahan. Namun, menghadapi anak sensitif memang membutuh perhatian yang lebih besar sehingga mereka bisa belajar melihat sensitivitas mereka sebagai suatu kekuatan. Kemudian, mulai memberdayakan diri  dengan menggunakan sisi baik dari kepribadian mereka ini untuk meraih kesuksesan di masa depan.

(Dini/Psychology Today)

PENULIS

Dini